Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Jogja menyelenggarakan Workshop bersama pelaku usaha pariwisata. Bertempat di Gowongan Inn, Jl Gowongan Kidul Yogyakarta acara ini dihadiri berbagai pihak. Dengan workshop ini, diharapkan ada nya sharing mengenai masalah dan kebutuhan tentang bagaimana mengelola kota Pusaka Yogyakarta.

Menghadirkan pembicara dari berbagai lembaga diantara nya Adi Bowo (Jogja Heritage Society), Achmad Charris Zubair (Dewan Kebudayaan Kota Jogja), Giffary (Tim Pertimbangan Pelestarian Wisata Budaya), Herman Tony (PHRI) dan Udhi Sudiyanto (ASITA JOGJA).Tujuan nya adalah tercapai nya kesepahaman sudutpandang dari pelaku pariwisata dalam membangun, mengontrol dan mengarahkan tentang tata kelola kota pusaka Jogjakarta.

Jogjakarta merupakan salah satu kota yang ditunjuk oleh kementrian Pariwisata sebagai destinasi Tematik Kota Pusaka 2016 selain kota Surakarta, Singkawang, Cirebon dan Sawahlunto. Potensi kota Pusaka Jogjakarta sendiri berada di kawasan Malioboro, Kota Baru, Pakualaman, Keraton dan Kotagede.

Menurut Charris Zubair, Jogjakarta adalah kota dengan dinamika yang menarik. Dinamika itu yang melahirkan identitas Jogja sebagai kota Pusaka.

Karena merupakan kota pusaka, maka ada kewajiban untuk merawat, menjaga dan melestarikan nya, ungkap Adi Bowo.

Sementara itu, Ghiffary menjelaskan mengenai bagaimana agar pusaka tersebut dapat "hidup" dan mampu memberikan suasana atau informasi dengan cara yang kreatif dan menarik serta fokus pada keaslian dalam cerita dibalik pusaka tsb, ditambah ada nya sistem yang menjamin kelestarian pusaka itu.

Sebagai pelaku usaha pariwisata, ada 3 hal yang perlu dilakukan untuk Jogja menurut Udhi Sudiyanto yaitu Positioning (pasar yang akan dibidik serta ada nya kontinuitas), differensial dan Branding untuk semakin memajukan Jogja sebagai kota pusaka.

Perwujudan hal ini tentunya memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk dapat meningkatkan volume kunjungan wisata, namun tidak merusak dan bisa tetap menjaga kelestarian pusaka budaya Jogja.(wp)