BANTUL - Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan 'surga' bagi pengembangan sektor pariwisata.

Bagaimana tidak, selain jajaran pesisir pantai selatan yang menawan, wisata alam di atas ketinggian, tanah Mataram juga menyimpan keindahan dari balik perut Bumi. Sebut saja Gua Pindul, Gua Jomblang di Kabupaten Gunungkidul atau Gua Selarong dan Gua Cerme di Kabupaten Bantul.Tempat-tempat itu menyimpan keindahan alami.

Namun, jika anda ingin menikmati keindahan perut bumi yang lebih menantang, cobalah datang ke Goa Gajah.Secara administrasi goa ini terletak di Dusun Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Dari jalan utama Mangunan, menuju Goa Gajah ini pengunjung akan melintasi jalanan kampung.Petunjuk arah satu-satunya bersumber dari plang yang dibuat sangat sederhana di pinggiran jalan.Sebaiknya anda rajin bertanya, supaya tidak tersesat.
Jalanan masuk menuju objek wisata masih sangat sepi.Sepanjang perjalanan sebelah kanan dan kiri, pengunjung akan disuguhi panorama alam khas pedesaan.

Lokasi mulut goa berada di area perkebunan, di antara bebatuan karst. Pengunjung bisa masuk sendiri hanya membayar retribusi parkir. Namun bisa juga menyewa guide, sebagai pemandu untuk menyusuri jalan gua.

Goa Gajah ini masih sangat alami, berbentuk horisontal dan memiliki panjang sekitar 150 - 200 meter. Di dalam gua, terdapat banyak stalagtit dan stalagmit. Ketika masuk ke dalam, pengunjung disarankan membawa senter sebagai alat bantu penerangan.
Hal ini dikarenakan kondisi di dalam gua cukup gelap.

Ketika Tribunjogja.com menyusuri dalam gua, terdapat sejumlah ruangan yang relatif lebar-lebar dengan nama-nama yang bisa membuat buku kuduk merinding. Misalkan saja, gapura depan pintu masuk terdapat batu berukuran besar yang dinamakan Kyai Balad oleh masyarakat setempat.

Konon, kata Yuliono sang pemandu, Kyai Balad itu merupakan seorang abdi dalem yang bertugas menunggu mulut goa. "Tapi cerita itu hanya legenda. Boleh dipercaya dan boleh juga tidak percaya," kata dia pada Tribunjogja.com saat memulai percakapan ketika langkah kaki memasuki gua. Menuju ke ruangan pertama pengunjung harus melewati pintu yang berukuran kecil. Untuk bisa masuk, pengunjung harus membungkukan badan.

Menurut Yuliono, membungkukan badan itu memiliki filosofi. "Barang siapa memasuki rumah orang. Maka harus menghormati pemilik rumah. Caranya dengan membungkukan badan," tuturnya. Di ruang selanjutnya, ada ruangan yang dinamakan lorong ular.

Lorong ini berbentuk memanjang sedikit melingkar yang terhubung satu sama lain. Ada juga ruang pendopo, Kepatihan dan batu yang mirip dengan seekor buaya. Di sisi yang lain terdapat batu berukuran cukup besar, berbentuk menyerupai kepala kuda.
"Batu itu namanya Turangga," ujar Yuliono.

Usai mengamati setiap lekukan batu gua di ruang Kepatihan, Yuliono memandu menuju ruangan berikutnya yang bernama Sentong.
"Sentong ini tempat untuk berhias," Yono menjelaskan.

Dari pantauan Tribunjogja.com, Ruang Sentong ini sedikit lebih sempit dibandingkan dengan ruang sebelumnya. Lebih masuk lagi ke dalam perut gua, ada ruangan bernama Keputren. Ruangan ini konon sebagai tempat peristirahatan perempuan, bentuknya cekungan kecil dan sedikit pengap. Sejumlah kelelawar terlihat beterbangan di sudut ruangan.

Ruangan berikutnya adalah Papan Abdi. Ruangan ini cukup luas yang ditaksir dapat menampung sekitar 30-an orang lebih. Adapun satu di antara ruangan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat adalah ruang pamujan. Ruang ini terdapat di dekat pintu keluar gua. "Ruang pamujan hanya dikunjungi oleh orang-orang yang akan berdiam diri, mendekatkan diri kepada Tuhan," ujar dia.
Ruang Pamujan, kata Yono, mampu menampung sedikitnya tiga sampai empat orang. Di bawah ruang pamujan, ada sebuah gumpalan batu cukup besar, bentuknya menyerupai gajah, lengkap dengan belalainya. "Batu ini namanya Batu Gajah. Bentuknya mirip gajah. Itu mengapa gua ini disebut Goa Gajah," kata Yono menjelaskan sembari tangan dia memegang ujung dari batu. Lebih lanjut, Yono mengatakan Goa Gajah mulai aktif dikelola oleh masyarakat sejak tahun 2006 silam. Tepatnya, pasca terjadi gempa tektonik yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 13 tahun yang lalu.

Goa Gajah merupakan destinasi wisata minat khusus, sehingga masih sepi dari pengunjung. Kata Yono, ramainya ketika akhir pekan. Sejumlah turis dari mancanegara menurut dia pernah datang berkunjung. "Dari Belanda, China dan Taiwan," katanya. (*)

 

Sumber: TribunJogja.com