Rencana reaktivasi jalur kereta Jawa Tengah dan DI Yogyakarta masih tahap Detail Engineering Design (DED). Sedangkan detail trade pun ditargetkan mulai tahun depan atau 2020. Hal itu diungkapkan oleh Kabid Sarana Prasarana Dishub Sleman Jenu Santoso.

Berdasarkan informasi dari konsultan, Jenu mengungkapkan panjang jalur kereta yang diaktivasi akan mencapai panjang sekitar 40 km. "Jalur kereta dimulai dari Stasiun Patukan, Gamping hingga Candi Borobudur," kata Jenu di Kantor Dishub Sleman, Rabu (23/10/2019).

Secara administratif, akan ada 9 desa di 6 kecamatan yang akan dilewati oleh jalur kereta tersebut. 9 desa tersebut adalah Ambarketawang (Gamping), Sidokarto (Godean), Margoluwih (Seyegan), Tirtonadi (Sleman), serta Margorejo dan Lumbungrejo di Tempel.

"Warga sudah mendapat sosialisasi sejak Agustus lalu. Saat itu yang hadir adalah para kepala desa," jelas Jenu. Jalur sendiri rencananya akan dibangun dengan konsep atgrade alias sejajar dengan tanah. Sebab, menurut Jenu, jika dibangun melayang (elevated) biayanya akan terlalu mahal.

Jenu sendiri mengatakan Pemkab Sleman mendukung proyek nasional tersebut. Sebab keberadaan jalur kereta itu nantinya akan mendukung tersedianya alternatif moda transportasi bagi masyarakat. "Jalur kereta ini juga sejalan dengan visi Pemkab Sleman terkait pariwisata terkemuka di 2025," kata Jenu.

Jalur Borobudur menuju Parangtritis

Pakar Transportasi, Djoko Setijowarno mengatakan untuk jalur kereta api dari Borobudur menuju Parangtritis, menurutnya jauh lebih baik menggunakan jalur lama atau reaktivasi.

Hal ini jika membuat jalur baru lahan di DIY sudah terbatas.

"Kalau reaktivasi jalur rel yang sudah ada, cukup penertiban bukan penggusuran. Pemda harus bantu untuk menyelamatkan warganya agar mendapat tempat tinggal yang baru," katanya.

Namun untuk lahan-lahan di DIY, kata Djoko berbeda dengan di luar DIY, menyangkut kepemilikan lahannya. "Maka, harus ada pembicaraan dengan Gubernur, Sultan HB X," jelasnya.

Dia juga setuju adanya wacana pembangunan jalur kereta MRT di Yogya ini harus disambut baik. Hal ini karena lalu lintas di Yogya sudah padat dan semakin hari semakin macet.

"Setuju jika MRT dibangun di Yogya, sudah macet lalu lintasnya sekarang. adi harus mengalihkan ke moda transportasi. Karena, yang berbasis jalan sudah padat, " ujarnya.

Dia mengatakan, untuk jalurnya yang paling ideal adalah elevated (melayang) tetapi harus memperhatikan kearifan lokal. Dia mengatakan, jika mau serius dibangun, segera dibuat Feasibility Studi (FS), Kajian trase dan kemudian berlanjut dengan DED.

Sementara, jalur untuk MRT ini akan lebih murah dibangun elevated dan disesuaikan dengan median-median jalannya.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana menjelaskan, kampanye penggunaan transportasi publik sangat penting bagi warga DIY. Hal ini karena dengan transportasi publik ini, Yogyakarta tidak akan macet dari segi lalu lintasnya.

“Kami mendukung untuk rencana pembangunan MRT dan juga kereta api di DIY. Ini sangat mendukung untuk mengurangi kemacetan di Yogya, jangan sampai seperti Jakarta,” ujarnya.

Huda menambahkan, untuk MRT dan kereta api ini sudah ada kajian dan implementasinya nantinya disesuaikan dengan hasil kajian tersebut. Pihaknya mendorong agar kehadiran transportasi publik ini juga diikuti dengan penurunan penggunaan kendaraan pribadi di masyarakat.

Tanggapan Sultan

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut adanya wacana untuk pembangunan jalur kereta MRT dan reaktivasi jalur lama dari Palbapang, Bantul. Namun, hingga kini belum ada pembicaraan lebih lanjut terkait dengan hal ini.

"Memang ada seperti itu. Saya belum tahu apakah akan menggunakan rel baru atau lama, maunya ke mana arahnya ke mana, " jelas Sultan, baru-baru ini.

Sultan menambahkan, jika akan menggunakan jalur rel lama maka harus ada pembicaraan lebih lama. Hal ini karena sebagian besar sudah ditutup aspal atau menjadi halaman rumah.

"Atau penghuni atau masyarakat suruh mundur, " jelasnya.

Menurut Sultan, hal ini tentu saja sedikit merepotkan. Hanya dia menegaskan jika dirinya sama sekali belum diajak untuk berdiskusi mendetail terkait ini. "
Belum ada tindak lanjut, infonya yang akan mengembangkan anak perusahaan PT KAI yang kerjasama dengan Belanda. Kembali ke jalur NIIS dulu dari Palbapang," urainya.

Kepala Dishub DIY, Sigit Sapto Raharjo masih belum memberikan update terakhir mengenai jalur kereta api dan juga jalur MRT. Namun, sebelumnya pihaknya tengah membuat studi dan perencanaan terkait dengan kereta MRT dari Tempel menuju ke Stasiun Palbapang, Bantul. Pihak Dishub DIY pun akan menawarkan konsep ini kepada investor.

"Kami tengah membuat studi MRT dari Tempel ke Palbapang dengan jalur elevated atau melayang," katanya.

Menurutnya, MRT ini akan menjadi moda transportasi dari utara hingga selatan dan terintegrasi dengan bandara YIA. Dia menjelaskan, dokumen studi itu memang sudah dilirik beberapa investor. Namun, hal ini masih dalam penjajakan oleh pihak investor.

"Sudah ada yang ingin melihat studi tersebut," paparnya.

Sigit juga menyebutkan jalur kereta api yang akan dibangun menuju Borobudur dari Yogyakarta lebih baik elevated (melayang). Hal ini karena jalur kereta api dimaksudkan untuk tidak membelah kawasan atau perkampungan.

 

Sumber: TribunJogja.com